CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

MY PICTURE'S

MY PICTURE'S
KEISTIMEWAAN SEORANG WANITA TERPANCAR DARI HIJABNYA

Minggu, 27 Juni 2010

DINAMIKA EKONOMI PEDESAAN DAN PERKOTAN

Tugas Kelompok

MK Dinamika Ekonomi Pedesaan Dan Perkotaan

DINAMIKA EKONOMI PEDESAAN DAN PERKOTAN

“Studi tentang budidaya jagung pada masyarakat Maluku”

KELOMPOK II

OLEH:

DWI SURTI JUNIDA E 511 08 253

YUNTI LIMBONG E 511 08 254

JURUSAN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASAR

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah yang disusun ini berisikan tentang bagaimana pembudiyaan jagung dari yang dahulu hingga sekarang

Akhirnya,menaruh harapan besar semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Walaupun penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sangat membangun dalam rangka penyempurnaan makalah ini.

Makassar, Maret 2010

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………………….

A. Latar Belakang………………………………………………………………….

B. Rumusan Masalah…………………………………………………………….

C. Tujuan dan Kegunaan penelitian……………………………………….

D. Kegunaan Penelitian…………………………………………………………

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………………………..

A. Pemilihan Lahan

B Pembibitan

C. Penanaman

D. Pemupukan

E. Teknik Tenaga Kerja

F. Pemasaran

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………………...

A. Kesimpulan………………………………………………………………………

B. Saran………………………………………………………………………………..

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kondisi ekonomi

Upaya melepaskan diri dari keadaan krisis ekonomi seperti tertuang pada program Jaring Pengaman Sosial, pembangunan pertanian diletakkan sebagai basis utama dalam upaya penanggulangan dampak krisis yang lebih parah. Sejalan dengan hal tersebut di atas, kebijaksanaan pembangunan pertanian saat ini adalah meletakkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan (people centered development). Modal pembangunan pertanian seiring dengan agenda reformasi pembangunan yaitu pem-bangunan yang demokratis dan lebih merata.

Pembangunan pertanian diharapkan agar terus dapat memantapkan swasembada pangan melalui pemba-ngunan sistem pertanian berkelanjutan (sustainable agricultural development) dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Dalam lingkungan yang lebih sempit, pembangunan pertanian diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat tani pada faktor produksi pertanian terutama sumber dana, teknologi, bibit unggul, pupuk dan sistem distribusi, sehingga berdampak langsung meningkatkan kesejahteraan petani .

Palawija adalah salah satu komoditas pertanian yang diharapkan oleh pemerintah mampu mengatasi dan membendung krisis pangan yang selanjutnya dapat dijadikan benteng terhadap ketahanan pangan nasional. Sebagai perwujudan program tersebut, pemerintah telah mencanangkan program GEMA PALAGUNG 2001 dan tanaman jagung diposisikan sebagai tanaman terpenting kedua setelah padi. Komoditas ini permintaannya di dalam negeri terus menunjukkan peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari upaya diversifikasi penggunaan komoditas jagung yang terus berkembang.
Selain sebagai tanaman pangan kedua setelah beras, permintaan industri pakan ternak terhadap jagung pun terus meningkat, begitu pula permintaan industri lain yang menggunakan jagung sebagai bahan baku lainnya. Sementara ketersediaan komoditas ini di dalam negeri belum bisa mengimbangi kebutuhan jagung secara nasional, sehingga pemerintah masih harus mengimpor jagung tersebut dari beberapa negara produsen.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses pembudidayaan jagung?

C. Tujuan Dan Manfaat penelitian

1. Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas diharapkan dapat mengetahui bagaimana proses pembudidayaan jagung

2. Manfaat

a. Dapat menjelaskan perbandingan tentang proses pembudidayaan jagung masa tradisional dan modern

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengolahan Lahan


Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek. Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung. Hal ini berlaku pada masyarakat tradisional hingga sekarang masih berlaku. Pada masyarakat tertentu pemilihan lahan di sepakati oleh seluruh anggota masyarakat setempat demi terlaksanakannya proses pengolahannya.

Menurut Keesing, dalam berbagai unit produksi masyarakat seperti regu berkebun yang akan menggarap tanah luas yang dipilih sebagai kebun mencakup semua penghuni dusun. Regu kebun mengerjakan beberapa macam pekerjaan secara kolektif, dibawah pimpinan dukun kebun yang juga seorang ahli teknik. Kebun seluruhnya dibagi menjadi petak-petak kecil (Keesing, 1989:180).

Pekerjaan komunal demikian

”berlangsung bila mana semua penghuni dusun sepakat melaksanakan satu tahap berkebun secara bersama-sama, atas dasar resiprositas”(Malinowski, 1922:161).

“Dalam proses pemilihan lahan pertanian, menurut Weiner adanya penentuan para penanam dengan cermat membentuk kelompok dimulai ketika kebun di garap, lahan tersebut di tentukan sebagai kebun pangan”. (Weiner, 1976: 147).

“Orang-orang Trobriand, mereka dihimpun dalam berbagai kelompok yang di dasarkan pada garis keturunan yang berperan seperti halnya perusahaan, dalam pemilikan tanah secara bersama-sama (orang Maring membentuk kelompok ini berdasarkan keturunan menurut garis keturunan menurut garis keturunan wanita)”. Sama halnya pada masyarakat Tsembaga Maring dari Irian yang dikaji oleh Rappoort(Keesing)

B. Pembenihan
Pada masyarakat modern umumnya benih digunakan yang bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam Poc NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).
Pada tanah berat dengan struktur mantap pengolahan tanah dilakukan 2 kali, sedang untuk tanah ringan (porous) seperti tanah Alfisol, Regosol, Etisol, dan Oxixol, dapat dilakukan pengolahan tanah minimum, yaitu pengolahan tanah sepanjang baris tanaman atau tanpa pengolahan tanah dan hanya dilakukan pendaringan (pengguludan) pada saat tanaman berumur sekitar 25 hari.

Beberapa varietas unggul dapat digunakan sebagai alternatif. Untuk daerah-daerah tertentu yang lebih menyukai varietas lokal karena alasan rasa dan umur panen, varietas lokal masih dapat ditanam tetapi cara budidaya-nya harus diperbaiki.

Varietas bersari bebas:

Varietas

Umur Panen (hari)

Potensi hasil (t/ha)

Tahun Pelepasan

1. Arjuna

90

4,3

1980

2.Wisanggemi

90

6.0

1995

3. Bisma

96

6.5

1995

97

6,5

1997

Varietas Hibrida

Varietas

Umur Panen (hari)

Potensi hasil (t/ha)

Tahun Pelepasan

1. C-2

97

6,7

1989

2. C-3

95

6,4

1992

3. CPI-2

97

6,2

1992

4. Semar-3

98

6,4

1992

5. BISI-1

92

7,0

1995

6. BISI-1

103

8,9

1995

7. Semar-3

100-105

8,5

1996

8. Semar-6

96

9,0

1996

9. Semar-7

100

8,8

1996

10. Semar-8

100

8,8

1996

11. Semar-9

100

9,0

1996

12. Semar-4

90

8,5

1999

13. Semar-5

98

9,0

1999

Ket: Varietas-varietas tersebut tahan terhadap penyakit bulai dan karat daun.

Pada masyarakat terdahulu dalam budi daya tanaman, pengolahan tanahnya merupakan kegiatan yang paling banyak menyerap energi. Pengolahan tanah diperlukan untuk menciptakan lingkungan fisik tanah yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman. (Oisat, 2001) membagi pengolahan tanah menjadi dua bagian, yaitu pengolahan konvensional dan konservasi.

1. Pengolahan Konvensional

Secara konvensional, pengolahan tanah dilakukan dengan cangkul, bajak, garu, atau peralatan mekanis untuk menyiapkan lahan bagi budi daya tanaman. Keuntungan pengolahan tanah secara konvensional di antaranya adalah memperbaiki erosi tanah, mengendalikan gulma, dan memudahkan aktivitas budidaya lainnya. Pengolahan tanah secara konvensional juga mempunyai kelemahan, diantaranya merusak struktur permukaan tanah, meningkatkan peluang erosi, dan penguapan lengas tanah, dan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak.

2. Pengolahan Konservasi

Pada pengolahan tanah konservasi, sisa tanaman sebelumnya dihamparkan di permukaan tanah. Keuntungan dari cara ini adalah menghambat evaporasi, mengurangi erosi, meningkatkan kandungan bahan organic tanah, dan menekan biaya tenaga kerja (Oisat, 2001). Kelemahan dari pengolahan tanah konservasi adalah populasi hama kemungkinan meningkat, bahan organik (sisa –sisa tanaman jagung) terkonsentrasi pada lapisan atas tanah, dan membutuhkan waktu yang lama untuk meningkatkan kesuburan tanah. Akhir-akhir ini pengolahan tanah minimum (minimum tillage) merupakan salah satu bentuk pengolahan tanah konservasi yang telah banyak diterapkan dalam budi daya jagung.

A. Alat Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah pada umumnya dilakukan dua kali baik secara tradisional maupun modern. Pada pengolahan pertama, tanah dicangkul atau dibajak dan dibalik sehingga sisa-sisa tanaman terbenam, dan selanjutnya mengalami pembusukan. Alat yang umum digunakan adalah cangkul, garpu, dan bajak singkal/rotari. Cangkul dan garpu merupakan alat sederhana yang dioperasikan oleh tenaga manusia. Pengolahan tanah dengan cangkul membutuhkan waktu sekitar 44 jam kerja/ha. Pada msayrakat modern bajak singkal dan bajak rotari umumnya digunakan untuk pengolahan pertama. Tenaga penarik bajak dapat berupa traktor tangan berkekuatan 5-10 tenaga kuda (TK), traktor mini (12,5-12 TK), dan traktor besar (30-80 TK). Jumlah bajak yang dapat digandengkan ke traktor bergantung pada sumber tenaga traktor. Traktor tangan biasanya hanya menggunakan satu bajak, traktor mini 1-2 bajak, dan traktor besar 3-8 bajak. Berbeda dengan bajak singkal, bajak rotari dilengkapi dengan komponen pemutar yang dapat langsung menghancurkan dan meratakan tanah. Namun demikian, kedalaman olah bajak rotari dangkal sehingga lebih cocok digunakan untuk mengolah tanah bertekstur ringan. Sedangkan secara tadisional umumnya mereka menggunakan binatang seperti kerbau untuk menggarap tanah olahan.

Hal ini tidak jauh beda dalam pengolahan tanah pada masyarakat Trobriand, menurut Keesing:

“umumnya mereka menggunakan piranti-piranti sederhana seperti tugal runcinguntuk menggali dan menyiangi, kapak serta beliung batu untuk menebang pohon (Keesing, 1989:181).

C. Teknik Penanaman

“Kaum lelaki membersihkan semak-semak, kaum lelaki dan wanita membersihkan tanah dan mempersiapkannya untuk di tanami, kaum lelaki menanam dan kaum wanita menyiangi, kaum pria merawat tanaman yang tidak tumbuh subur dan kedua jenis kelamin tersebut mengambil hasil panen bersama”(Keesing, 1989 :181).

Dalam teknik penanaman terdapat beberapa proses, yakni:
1. Penentuan Pola Tanaman, beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :

a. Tumpang sari (intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda).

b. Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum.

c. Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda).

d. Tanaman Campuran (Mixed Cropping) : penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit..

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam

Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen < 80 hari, jarak tanamnya 20x50 cm (1 tanaman/lubang). Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu.

3. Penjarangan dan Penyulaman

Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.


4. Penyiangan Dan
Pembumbunan

Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

Pada masyarakat modern penyiangan dilakukan 2 kali, penyiangan I pada umur 10-15 hari dan penyiangan ke II pada umur 25-28 hari bersamaan dengan dilakukannya pembumbunan dan pemupukan ke II. Pada daerah yang sulit tenaga kerja, gulma dapat dikendalikan dengan penyemprotan herbisida pra tumbuh seperti a.l : Goal, Saturn-D, Gramaxone, Command, Ronstar dll. Dengan dosis sesuai anjuran Coammad.

5. Pengairan dan Penyiraman

Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

Masyarakat sekarang (modern) menggunakan pompa dan pemompaan pompa air merupakan alat pengangkut air dari suatu tempat ke tempat lain. Tujuan pemompaan adalah untuk menyediakan air bagi tanaman yang karena alasan teknis tidak dapat diairi. Terdapat berbagai jenis pompa di antaranya pompa aksial, pompa sentrifugal, dan pompa piston. Pompa aksial mempunyai debit pemompaan yang besar namun ketinggian pemompaan terbatas (< 5 m). Pompa sentrifugal, meskipun mempunyai debit yang lebih rendah dibandingkan pompa aksial, namun ketinggian pemompaannya tinggi. Oleh karena itu, faktor kedalaman sumber air, tujuan pemompaan, dan luas areal yang akan diairi perlu dipertimbangkan dalam memilih pompa. Pompa sentrifugal juga telah dirancang dan diuji kinerjanya oleh BB Mektan. Pompa tersebut diberi nama pompa air model AP-S100 dan digunakan untuk irigasi maupun drainase di lahan pertanian. Pompa ini memiliki impeller dan casing dengan desain yang berbeda dengan pompa yang ada dipasaran. Bobot pompa sangat ringan dengan efisensi pemompaan mencapai 72%. Selain itu masyarakat sekarang (modern) memiliki cara tanam yang diusahakan dengan jarak yang teratur, baik dengan ditugal maupun mengikuti alur bajak. Populasi tanaman optimal berkisar antara 62.500 - 100.000 tanaman/ha, dengan jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 tanaman /lubang atau 75 cm x 20 cm,1 tanaman/lubang. Untuk varietas lokal pada musim penghujan jarak tanam 75 cm x 30 cm,2 tanaman/lubang. Untuk jagung hibrida, jarak tanam 75 cm x 20 cm, 1 tanaman/lubang dapat memberikan pertumbuhan dan hasil produksi yang lebih baik. Penanaman dapat juga dilakukan dengan sistem dua baris (double row), yaitu jarak tanam (100 cm x 50 cm) x 20 cm dengan 1 tanaman/lubang.

Namun hal ini berbeda dengan masyrakat tradisional , dimana mereka menganggap bahwa jagung termasuk tanaman yang perakarannya dangkal sehingga memungkinkan rebah. Untuk memperkuat perakaran, tanaman jagung perlu dibumbun. Pembumbunan sekaligus berfungsi sebagai media penyalur irigasi dalam bentuk alur-alur, terutama apabila jagung diusahakan pada musim kemarau di mana air tanah sangat terbatas . Pembumbunan tanaman umumnya dilakukan petani dengan menggunakan cangkul, tanah di sekitar tanaman diambil dengan cangkul dan dipindahkan ke sekitar perakaran tanaman. Cara pembumbunan seperti ini efektif memperkuat perakaran tanaman. Ditinjau dari produktivitas kerja, kegiatan pembumbunan konvensional ini sangat melelahkan dan berbiaya tinggi, untuk membumbun lahan seluas 1 ha diperlukan waktu 176 jam. Kalau diasumsikan kapasitas kerja petani 8 jam/hari, maka diperlukan waktu 21 hari untuk pembumbunan (Aqil et al. 2004). Selain itu, kedalaman pembumbunan dengan cangkul hanya 9-10 cm, sehingga pengairan yang 270 Jagung: “Teknik Produksi dan Pengembangan diberikan melimpas di atas alur dan menggenangi seluruh lahan. Cara ini tentu tidak efisien dalam penggunaan air. Hasil penelitian Balitsereal pada tahun 2002 menunjukkan efisiensi irigasi oleh petani hanya 46%. Dalam upaya perbaikan sistem pembumbunan dan pengairan di tingkat petani telah dilakukan perancangan dan pembuatan alat pembuat alur irigasi/pembumbun model PAI-M1 dan PAI-M2. Perbandingan kinerja alat yang dibuat dengan pembumbunan menggunakan cangkul atau bajak singkal yang ditarik ternak disajikan pada masyarakat tradisional. Ditinjau dari kapasitas kerja, lebar dan kedalaman bumbun, maka alat pembuat alur lebih efektif dibandingkan menggunakan cangkul atau bajak singkal ditarik ternak. Kedalaman alur pembumbunan yang mencapai 22 cm memungkinkan tanaman tumbuh lebih cepat dan tahan rebah. Biaya yang harus dikeluarkan petani untuk pembumbunan juga berkurang dari Rp 200.000 menjadi Rp 35.600/ha. Alat pembuat alur irigasi/pembumbun jagung model PAI-M1 dan PAI-M2. Kapasitas kerja, dimensi alur, dan biaya operasional alsin pembuat alur model PAI-M2, PAI-M1, cangkul, dan bajak singkal/ternak pada tanah bertekstur ringan”. (Aqil et ql. 2004)

Alur irigasi

- Lebar alur (cm) 34,9 3 5 3 5 2 7

- Kedalaman (cm) 22,4 22,8 9 1 6

- Efisiensi irigasi (%) 90,9 90,0 46,2 -

Biaya operasional (Rp/ha) 85.414 35.600 330.000 200.000

Hal ini tidak beda dengan proses pertukaran tanaman di kebun pertukaran pada masyarakat Trobriand, Weiber menjelaskan bahwa “seorang pria menanam dan merawat kebun untuk pertukaran tidak memiliki hasil kebun yang bersangkutan. Dari saat penanaman di masyarakat Trobriand”. Lebih lanjut, bahan untuk bercocok tanam tersebut di sediakan oleh calon penerima hasil penanaman (di sediakan dari panenan tahun lalu), sehingga apa yang di hadiahkan oleh orang yang menanam dan merawat kebun pertukaran tersebut adalah kerja yang di wujudkannya. (Weiber, 1976 :147).

Namun Malinowski tidak mampu membedakan dengan jelas antara kebun pangan kebun pertukaran (karena dia tidak tertarik pada hal yang terakhir). Hal ini menyebabkan dia mengabaikan teka-teki nyata bahwa

“seorang pria menggunakan mantera kebun hanya di kebun yang dia tanami untuk orang lain, tidak ada yang menggunakan mantera untuk kebun pangan kebutuhan sendiri, karena hasi kebun ini langsung di perlukan sebagai pangan dan tidak menunjang pelestarian hubungan yang formal. (Weiber, 1976 : 217).

Pada masyarakat tradisional peralatan tanam tradisional dan semi mekanis. Penanaman benih jagung yang umum dilakukan petani adalah dengan tugal. Cara ini memerlukan banyak waktu, tenaga, dan melelahkan. Beberapa modifikasi telah dilakukan terhadap alat tanam tugal, di antaranya menghasilkan alat tanam modifikasi model V. Bagian utama tugal yang dimodifikasi adalah:

• Tangkai kendali

• Kotak benih

• Pengatur pengeluaran benih

Saluran benih

Mekanisme kerja alat tugal modifikasi ini adalah pada saat ditugalkan ketanah dan tangkai kendalinya didorong ke depan maka tangkai penguakakan menguak tanah dan sekaligus memberi tanda pada permukaan tanah dan mendorong tuas yang juga menggerakkan papan benih sehingga benih yang ada dalam lubang papan benih akan jatuh ke lubang tegalan di tanah. Apabila alat tanam diangkat, tanah akan terkuak dan menutup kembali dan papan benih akan kembali ke posisi semula. Cara penggunaan alat tanam ini cukup sederhana, cukup dengan memegang tangkai kendali dan menugalkannya ke dalam tanah, kemudian mendorong tangkai kendali ke depan secukupnya, lalu mengangkatnya kembali. Kapasitas penugalannya adalah 60 jam/ha, lebih baik dari cara tradisional yang membutuhkan waktu 85 jam/ha. (Subandi et al. 2002).

D. Pemupukan



Waktu

Dosis Pupuk Makro (per ha)



Dosis POCNASA

Urea (kg)

TSP (kg)

KCl (kg)


Perendaman benih


-


-


-


2 - 4 cc/ lt air


Pupuk dasar


120


80


25


20 - 40 tutup/tangki
( siram merata )

2 minggu

-


-


-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram)


Susulan I (3 minggu)


115


-


55



-


4 minggu


-


-


-


4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )

Susulan II (6minggu)


115


-


-

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )

Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan Super Nasa dosis ± 1 botol/1000 m2 dengan cara :

- alternatif 1 : 1 botol super nasa diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.

- alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan Super Nasa untuk menyiram + 10 m bedengan.

Masyarakat modern menggunakannya dengan cara pemupukan ditugal ± 7 cm disekitar tanaman atau goretan (parit) yang dibuah disamping tanaman sepanjang barisan, setelah pupuk diberikan kemudian ditutup. Semua dosis SP-36 dan KCI dan 1/3 dosis urea diberikan saat tanam, 2/3 bagian urea diberikan pada umur 4 minggu. Apabila menggunakan urea tablet, pupuk diberikan pada umur tanaman 10 hari. Dosis pupuk disesuaikan dengan Brosur Acuan Rekomendasi Pemupukan Spesifik Lokasi Untuk Jagung yang dikeluarkan oleh Dinas Tanaman Pangan Setempat. Dilakukan dengan menerapkan kaidah pengendalian hama terpadu (PHT) yang komponen-nya terdiri dari penanaman varietas tahan pengelolaan kultur teknis yang tepat dan penggunaan pestisida. Pengendalian lalat bibit : dengan Karbofuran (misal : Furadan, Dharmafur, Regent dll). Karbofunen diberikan 4-5 butir bersamaan tanam ditempatkan dalam lubang tanaman. Pengendalian Penggerek Pucuk dengan Karbofuran ditempatkan pada titik tumbuh. Pengendalian penyakit Bulai dengan menggunakan varietas tahan dan perlakuan benih 5 gram Ridomil setiap 1 kg benih. Kecepatan kerja alat penanam yang ditarik oleh traktor roda empat maupun roda dua bervariasi antara 1,3-2 km/jam. Jarak penanaman yang dihasilkan rata-rata 40-50 cm dengan jumlah benih yang tertanam dua biji/lubang. Namun demikian, alat ini hanya dapat beroperasi dengan baik apabilpengolahan tanah dilakukan sempurna (Pitoyo dan Sulistyosari 2006).

Dalam hal pemupukan pada masyarakat terdahulu (tradisiona) diperlukan untuk meningkatkan kandungan hara dalam tanah agar tanaman memberikan hasil optimal. Salah satu faktor penting dalam pemupukan tanaman adalah kedalaman penempatan pupuk. Pemberian pupuk dengan cara membenamkan ke dalam tanah memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding apabila pupuk diletakkan di atas tanah. Prinsip dan mekanisme kerja alat pemupuk hampir sama dengan alat tanam, yang terdiri atas komponen pembuka alur, penjatuh pupuk, penutup alur, dan kotak pupuk. Balitsereal telah mengembangkan alat pembenam pupuk tipe dorong untuk lahan kering (Gambar 6). Kapasitas kerja alat pemupuk tipe dorong tersebut adalah 0,123 ha/jam, lebih tinggi disbanding alat tugal tradisional yang hanya 0,030 ha/jam (Abidin dan Prastowo 1990).

E. Teknik Penentuan Tenaga Kerja

“Manusia bekerja secara berkelompok, untuk mencapai tujuan yang menyangkut kepentingan bersama maupun individu dan produk kerja mereka menembus berbagai jaringan social, diberi makna dan nilai oleh dan dalam kelompok”(Keesing, 1989 : 178).

Demikian pun halnya pada pada masyarakat tradisional dalam pesta panen misalnya, pengerjaan hasil pertanian dilakukan dengan berkelompok atas dasar garis keturunan atau kekerabatan, sepeerti halnya pada masyarakat Kajang. Berbeda dengan masyarakat sekarang penentuan tenaga kerjanya, tidak di dasarkan pada garis keturunan melainkan berdasarkan tingkat kemampuan perekonomian (misalnya yang memiliki banyak materi atau kedudukan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi dan sebaliknya).

Pada masyarakat Trobriand, Keesing menggambarkan bahwa:

“Fase kerja kolektif ini oleh regu berkebun disebut sebagai tanggogula. Setiap pria mendapat bagian beberapa petak dari kebun yang luas yang digarap oleh seluruh anggota keluarga. Pekerjaan sehari dilaksanakan oleh setiap keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, kerja warga rumah tangga yang disebut tavile’i. Untuk berbagai pekerjaan lainnya, beberapa kelompok yang lebih besar dibentuk. Untuk beberapa macam pekerjaaan, warga dari beberapa rumah tangga, atau kadangkala regu berkebun secara keseluruhan akan menggabungkan tenaga mereka guna menggarap pekerjaan tersebut secara kolektif yang bila mereka kerjakan sendiri-sendiri akan berlangsung jauh lebih lama dan tidak menunjukkan adanya rasa persahabatan”(Keesing, 1989:180)

Hal ini berlaku pada proses pembagian kerja perkelompok karena menurut Malinowski

“Biasanya setiap rumah tangga, dimana pekerjaan yang bila mereka kerjakan sendiri akan membutuhkan waktu berhari-hari bisa diselesaikan dalam satu hari saja oleh kelompok kerja yang beranggota lebih banyak, sekaligus pihak rumah yang di tempati menyediakan makanan bagi para pekerja yang mengerjakan petak demi petak, selain itu tidak ada pembayaran yang berarti yang diberikan”(Malinoswki, 1922:161).

Semua orang dewasa di kepulauan Trobriand mengambil bagian secara penuh dalam produksi pertanian. Pembagian kerja pada dasarnya menurut jenis kelamin dan usia. Kaum lelaki membersihkan semak-semak, kaum lelaki dan wanita membersihkan tanah dan mempersiapkannya untuk ditanami, kaum lelaki menanam dan kaum wanita menyiangi, kaum pria merawat tananam yang tidak cukup subur, dan kedua jenis kelamin tersebut mengambil bagina dalam panen. Piranti mereka sederhana: tugal runcing untuk menyiangi, kapak serta beliunf batu untuk menebang pohon. (Keesing).

Pada masyarakat yang tinggal di Maluku Selatan, pembagian kerja
mengikuti logika hulu-hilir dalam bentuk belah ketupat. Hulu biasanya berada di utara. Bagian kiri dari belah ketupat, secara vertikal, ditempati kaum tua (kampung 1) sementara sisi kanan adalah kaum muda (kampung 3). Ketika belah ketupat dibagi dua, secara horisontal, kelompok tua dan muda yang berada di bagian atas memiliki status sosial lebih tinggi dibanding kelompok tua (kampung 2) dan muda di bawah (kampung 4). Kampung 1 & 3 sangat dipatuhi, tetapi mereka pasif dalam arti tidak menjalankan pemerintahan, hanya melaksanakan upacara adat, ritual dan norma bersama. Kekuasaan di seluruh kesatuan dikerjakan kampung 2 walau kampung 3 menduduki posisi yang lebih terhormat. Justru karena hal itu kampung 3 hanya menjalankan fungsi sebagai eksekutif internal sementara kampung 4 berlaku sebagai penjaga keamanan kampung baik secara internal maupun eksternal. Sementara masyarakat pola lima (belah ketupat dengan titik tengah) seperti Jawa, mengenal mancapat. Sistem ini merumuskan kedudukan pemimpin sebagai sentrum yang dikelilingi oleh wilayah satelit.
Kiranya sistem kerja yang dibangun dari kosmologi dan mitologi-genesis macam itulah yang mendorong merakyatnya ritus ataupun upacara-upacara penghormatan. Misalkan saja kepercayaan padi berasal dari tubuh Dewi Sri membuat masyarakat Jawa melangsungkan upacara pada awal tanam dan panen padi pada Dewi tersebut; lalu upacara meminta hujan dengan gamelan; sistem perhitungan masa tanam yang dikenal masyarakat Jawa dengan sebutan pranata mangsa (di Karo, pranata mangsa dilambangkan dengan apa yang hari ini kita kenal sebagai bintang Daud atau Yahudi); atau digunakannya petung primbon untuk menangkap maling pun sebaliknya, menentukan ‘saat’ yang paling tepat agar selamat waktu mencoleng.

F. Pemasaran

Pada masyarakat kepulauan Trobriand Malinowski melihat

“Ketika hasil panen banyak di dapatkan, mereka lebih banyak membagikannya kepada kerabat saudara perempuan dan ipar lelaki dari pada yang mereka konsumsi sebagai makanan pokok sehari-hari (Malinowski, 1922:182).

Ketika hasil panen telah di kumpulkan maka hal tersebut sudah siap di pasarkan dan memberikan upah kepada kelompok atau para penanam yang telah si sepakati sebelumnya.

Dalam proses kerja panen berkelompok pada masyarakat tertentu membagikan hasil panen yang di dapatkan merupakan hal yang sering di lakukan untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok ketimbang di jual.

Menurut Malinowski menggunakan istilah Trobriand urigugu untuk menyebut hadiah tahunan berupa ubi rambat terbaik yang di hasilkan oleh sebuah rumah tangga untuk rumah tangga lainnya idealnya, untuk rumah tangga saudara perempuan dan ipar lelaki pihak lelaki pada saat hasil panen telah ada. Menurut Malinowski “Keuntungan yang di dapatkan dari hasil panen di bagi rata kepada para penanam”.

Selain itu terdapat pula pada masyarakat tertentu upacara-upacara pada saat pasca panen mutlak di adakan, menurut Keesing pada masyarakat Maring di Irian:

“proses upacara di lengkapi dengan jampi-jampi dan yang memimpinnya adalah dukun kebun” (Keesing, 1989:184).

Di Maluku Utara, tepatnya dikecamatan sahu Kabupaten Halmahera barat, menurut tradisi masyarakat setempat, "rumah sasadu" ini sering digunakan masyarakat dimasing-masing desa tersebut ketika selesai kegiatan panen raya masyarakat setempat sebagai ungkapan rasa syukur terhadap yang maha kuasa. Berbagai macam makanan adat ,seperti halnya, jaha kam ( nasi yang dikukus didalam bambu dengan bungkusan daun pisang), bira dada, (nasi kuning/tumpeng), dan makanan adat lainnya, tak ketinggalan juga dalam acara panen raya yang dilaksanakn ritualnya di rumah adat sasadu, para undangan disuguhkan minuman Cap tikus , lahang, atau tuak/arak( minuman lokal yang beralkohol yang hasilkan dari tetesan air pohon enau). Kegiatan dimaksud dilaksanakan selama seminggu, dengan iringan beduk, bunyian gong, nyanyian moro-moro dan ungkapan dolabololo yang sepertinya mempunyai tafsiran filosofis untuk mengungkapkan rasa syukur kepada sang kuasa atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Uniknya dalam kegiatan ini, bunyian beduk, bunyian gong serta nyanyian moro-moro dan dolabolo tak pernah henti selama seminggu. selama seminggu dalam acara itupula tidak pernah berhenti disuguhkan minuman beralkohol sepertihalnya captikus dan lahang oleh masyarakat yang mengikuti kegiatan dimaksud. Tapi anehnya selama seminggu, mereka tidak pernah mabuk, bahkan tidak membuat kacau suasana ritual adat tersebut. Disamping sebagai tempat melaksanakan upacara adat istiadat pada masyarakat sahu, "sasadu" sering juga digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat setempat. Tarian Khas Legu Sahu

Ada yang terlupakan dari penjelasan tersebut diatas. sebenarnya sebelum memulai acara syukuran pasca panen oleh masyarakat setempat di rumah "sasadu", diawali dengan sebuah tarian lokal yang dikenal dengan tarian legu-legu. Tarian lokal khas masyarakat sahu ini pernah di undang oleh pemerintah belanda untuk ikut merayakan kegiatan festifal tong-tong yang dilaksanakan pemerintah belanda satu tahun yang lalu. Bukan tarian perang seperti halnya tarian soya-soya, cakalela dll, namun tarian legu-legu adalah khas "tarian damai" yang hanya terdapat di maluku utara.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada masa dahulu masyarakat menggunakan jagung sebagai bahan makanan pokok, status kepemilikan lahan tidak jelas (tanah adat) dengan daerah beriklim kering. Wilayah ini mencakup Kabupaten MTB, khususnya Kecamatan Pulau-pulau Terselatan, Lemola (Leti Moa Lakor), dan Pulau Babar. Pada wilayah ini menanam jagung merupakan kebutuhan (berapapun hasil yang diperoleh) karena jagung merupakan makanan pokok. Strategi pengembangan jagung diwilayah ini meliputi ekstensifikasi lahan pertanian, penggunaan inovasi teknologi budi daya, dan mitra usaha tani. Teknologi yang perlu diintroduksikan kepada petani adalah pemupukan organik dan anorganik sesuai takaran anjuran dan pengendalian OPT secara terpadu. Pengairan dengan memompa air permukaan atau air tanah dapat dikaji sebagai upaya mengatasi kekurangan air pada musim kemarau. Kekeringan dapat pula diatasi dengan menanam varietas toleran kekeringan seperti Lamuru atau varietas genjah unggul (berumur 8290 hari) tahan kekeringan seperti Gumarang, Lagalilo, dan Wisanggeni dengan potensi hasil6,807,50 t/ha. Pada lahan kering masam dapat dikembangkan varietas Antasena namun varietas ini tidak tahan terhadap penyakit bulai (Balai Penelitian Tanaman Serealia 2002). Mitra usaha diperlukan untuk menampung produksi jagung dengan harga yang layak serta menyediakan saprodi dengan harga terjangkau.

Lambat laun, pangan pokok masyarakatnya bukan jagung, tetapi sagu dan umbi-umbian. Jagung diusahakan sebagai tanaman sampingan pada wilayah dengan iklim relative basah. Status kepemilikan lahan tidak jelas (tanah adat). Wilayah ini meliputi Kabupaten Maluku Tengah, Maluku Tenggara, dan P.P. Aru. Termasuk kelompok ini adalah petani urban (Bugis dan Buton). Strategi pengembangan jagung di wilayah ini meliputi mitra usaha petani, perubahan tradisi lokal, ekstensifikasi, dan inovasi teknologi. Namun, ekstensifikasi terhambat minimnya jumlah tenaga kerja. Jaminan harga pasar yang memadai dapat merangsang petani untuk membuka lahan agar produksi jagungnya meningkat. Penggunaan alsintan perlu diperkenalkan, karena ratarata keluarga tani hanya mampu membuka lahan 0,500,75 ha. Inovasi teknologi yang penting adalah penggunaan varietas unggul, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian OPT, pengairan dengan pompanisasi, serta penanganan panen dan pascapanen. Varietas unggul berdaya hasil tinggi seperti Bisma dan Lamuru, disarankan untuk dikembangkan pada wilayah ini. Varietas Lamuru lebih toleran kekeringan dan tahan serangan hama bubuk dibanding Bisma. Varietas ini telah berkembang di Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur (Balai Penelitian Tanaman Serealia 2002).

Akhirnya, masyarakat memiliki makanan pokok beras, status kepemilikan lahan jelas, dan menanam jagung untuk kebutuhan komersial. Termasuk dalam wilayah ini adalah daerah-daerah tujuan transmigrasi seperti Kairatu, Buru, dan Seram Utara. Daerah ini umumnya beririgasi teknis sehingga dapat diterapkan sistem usaha tani dengan komponen teknologi maksimal. Ekstensifikasi sulit dilakukan karena status lahan telah jelas. Petani pada wilayah ini relatif maju, dengan menerapkan prinsip agribisnis dan cukup responsif terhadap pengenalan teknologi baru. Strategi pengembangan jagung diwilayah ini adalah mitra usaha dan inovasi teknologi. Mitra usaha dibutuhkan untuk menampung hasil dengan harga yang kompetitif, dan menyediakan sarana produksi dengan harga terjangkau dan tersedia saat dibutuhkan. Inovasi teknologi ditekankan pada penerapan teknologi secara maksimal seperti penggunaan bibit hibrida. Harga benih jagung hibrida yang lebih mahal disbanding benih jagung komposit, menurut Bahtiar et al. (2002) dapat disiasati dengan menanam benih dari pertanaman sendiri (F2), karena hasilnya tidak jauh berbeda dibanding menggunakan varietas hibrida (F1). Inovasi teknologi lain yang disarankan pada wilayah ini adalah peningkatan IP dan penerapan konsep pengelolaan tanaman dan sumber daya secara terpadu (PTT). Peningkatan IP dimungkinkan karena telah tersedia sarana irigasi. Di beberapa daerah di Jawa, pengembangan jagung di lahan sawah irigasi memberikan keunggulan komparatif yang lebih baik dibandingkan di lahan sawah tadah hujan maupun lahan kering.

B. Saran

Ekstensifikasi lahan pertanian masih sangat dimungkinkan karena potensi lahan yang tersedia cukup luas. Kendala utama ekstensifikasi adalah minimnya jumlah tenaga kerja keluarga. Oleh karena itu, selain mengoptimalkan sumber daya manusia, diperlukan alat dan mesin pertanian. Hal demikian di peruntukkan bagi pemerintah khususnya pada bagian pertanian dan pekebunan.

Serta Masalah dalam pengembangan jagung di lahan sawah adalah genangan air setelah panen padi sehingga jagung tidak dapat segera ditanam. Akibat terlambat tanam, tanaman berpeluang mengalami kekeringan pada fase

generatif. Masalah ini dapat diatasi dengan membuat saluran-saluran drainase mikro. Hal inipun merupakan tanggung jawab pemerintah dalam mengatasinya

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta. Jakarta. 2002.

Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, cet. 13, bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2000.

Simamora, Bilson. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif dan profitable.Pt Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2001

Mulyadi. Ekonomi Kelautan.PT RajaGrafindo Persada. 2005

Adat dan Upacara Daerah Maluku: Zusatz: Hrsg./Bearb.: Kebudayaan, Departemen Pendidikan d. Verlagsort: Jakarta: Verlag: Departemen Pendidikan House source:http://bib.soa.uni-bonn.de/gsdl/cgi-bin/library

Kamis, 24 Juni 2010

Manisnya Iman

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw:
“Tiga hal, yang barangsiapa memilikinya ia akan menemukan manisnya Iman, ia menjadikan Allah dan Rasul Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan ia tiada mencintai seseorang kecuali karena cintanya pada Allah, dan ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan pada api” (Shahih Bukhari).

Allah berfirman, “Aku bersumpah demi hari kiamat” (QS. Al Qiyamah : 1). Tinggallah Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Indah dan Maha Sempurna, Dialah Allah.

Dari kebaikan menuju kejahatan, dari pahala menjadi dosa, dari kesucian menjadi kehinaan menjadi kesucian dan setiap manusia banyaknya adalah selalu berubah – ubah dalam ketaatan.

Ketika manusia telah melebur menjadi debu dan tanah, Allah membangun kembali tubuhnya sebagaimana Allah membangun dari sel telur hingga tubuh manusia yang sempurna, Allah kembali membangun manusia.

Yas alu ayyana yaumul qiyamah” Mereka bertanya, kapan itu hari kiamat?” (QS. Al Qiyamah : 6). Mereka menghina-Ku dihadapan-Ku, kata Allah Swt. Maksudnya, setiap dosa dan kesalahan itu selalu dilihat oleh Allah. Mereka bertanya, kapan itu hari kiamat? Faidza bariqal bashar; wakhasafalqamar; wajumi’al syamsu walqamar” maka apabila mata terbelalak (ketakutan); hari di saat mata mata terbelalak dan ketakutan, hari dimana bulan tidak lagi bercahaya; hari dimana matahari dan bulan saling bertabrakan; (QS. Al Qiyamah : 7-9). Dihancurkanlah langit dan saling berbenturan antara matahari dan bulan, maka di saat itulah Allah berfiman, Fayaquulul insaanu yaumaidzin ainalmafar” maka bertanyalah manusia yang hidup saat itu, ke mana harus mencari perlindungan? (QS. Al Qiyamah : 10). “..ainalmafar” mereka terus bertanya ke mana harus mencari perlindungan. Tidak ada tempat mencari perlindungan saat itu; (QS. Al Qiyamah : 11).

Ilaa Rabbika yaumaidzilmustaqar tempat kembali satu – satunya dan tempat tinggal yang tersedia adalah di hadapan Allah.

Karena dosa tidak pernah terlihat namun di saat itu dosa diperlihatkan, betapa buruknya, betapa memalukan dan betapa busuk dan hinanya dosa – dosanya dan ia melihat betapa indahnya amal ibadahnya, pahalanya dan segala ketaatannya kepada Allah dan ia melihat bagaimana para pendosa sampai ke neraka dan bagaimana yang taat sampai ke surga. Walaw alqaa ma’aadziirah Apapun yang ia perbuat, walau ia mengajukan udzur – udzur (alasan – alasan), Allah Maha Melihat dan menjadkan saksi Dzatnya dan permukaan bumi bersaksi atas apa yang diperbuat dari kebaikan dan keburukannya. Ketika ayat – ayat ini turun, Sang Nabi saw bergetar dalam membacanya. Maka Allah meneruskan firmannya laa tuharrik bihi lisanaka lita’jala bihi; inna a’lainaa jam’ah wa qur’anah; faidza qura’nah fattabi’ qur’anah; tsumma inna a’laina bayaanah” (QS. Al Qiyamah : 16-19).

Kalimat – kalimat ini bukanlah kekejaman Ilahi tapi ajaran dari Rabbul Alamin Yang Maha Indah agar kita tidak tertipu dalam kehidupan yang sementara dan melupakan kehidupan yang abadi. Wujuuhun yaumaidzin naadhirah; ilaa Rabbihaa naadhirah” (QS. Al Qiyamah : 22-23). Bukan matahari dan bulan, bintang tapi wajah – wajah hamba – hamba Allah. ilaa Rabbiha nadhirah” memandang keindahan Allah Swt; (QS. Al Qiyamah : 23).

Tadhunnu an yuf’ala bihaa faaqirah” Ia akan mendapatkan kefakiran yang abadi karena ia tahu akan diberi kesusahan yang kekal; (QS. Al Qiyamah : 25). “Fadhonna annahulfiraq” manusia tidak bisa menolongnya; (QS. Al Qiyamah : 28). Waqiila man raaq; fadhonna annahul firaq”. Saat itu ia sudah tahu dengan pasti bahwa ia akan berpisah, berpisah dengan alam jasad, berpisah dengan keluarga dan teman, berpisah dengan harta dan jabatan, berpisah dengan semua yang ia lihat dan yang ia dengar.

Dari padatnya padang mahsyar menuju kehadirat Allah Swt menghadap. Awlaa laka fa awlaa; tsumma awlaa laka fa awlaa” kerugian baginya, kerugian baginya dan kerugian baginya dan kerugian baginya; (QS. Al Qiyamah : 34-35). “Tsumma dzahaba ilaa ahlihi yatamaththaa” ia hanya melewati kehidupan dunia ini tanpa perduli Sang Pemiliknya dan ia bersenang – senang dan bertenang – tenang dengan keluarga dan semua kehidupan dunia ini tanpa perduli kenikmatan Allah dan panggilan Kasih Sayang Illahi; (QS. Al Qiyamah : 33).

Allah Swt menyampaikan ayat ini menjadi penggembira bagi orang yang beriman dan teguran bagi orang yang tidak beriman. Maksudnya, apakah setiap kali sujud tidak dihargai oleh Allah? Dibiarkan begitu saja atau orang – orang yang tidak beriman mengira kekufuran mereka akan dibiarkan begitu saja setelah mereka berbuat kemunkaran di muka bumi? Faja’ala minhulzaujaiinil dzakara wal untsa; alaisa dzalika biqaadirin a’laa ayuhyiyalmautaa” Allah menjadikannya berpasang – pasangan dan berketurunan dan apakah dengan itu masih juga mereka belum mempercayai bahwa Allah bisa menghidupkan yang telah wafat? (QS. Al Qiyamah : 39-40).

Semoga Allah menghidupkan kita dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sampailah kita kepada hadits mulia ini, tsalatsun man kunna fihi wajada halawatal iman” Tiga hal yang apabila ada pada seseorang maka ia akan menemukan manisnya iman. Maksudnya apa? Betapa manisnya iman akan ia rasakan apabila ia mempunyai tiga sifat ini, sifat yang sangat luhur dari sifat – sifat orang yang dicintai Allah. An yakunnallah wa Rasuluhu ahabb ilaihi mimmaa siwaahuma bagaimana? Ia jadikan Allah dan Rasulnya (Sayyidina Muhammad Saw) lebih ia cintai dari semua yang selain keduanya. Ia lebih mencintai Allah dan Rasul dari semua yang lainnya. Ini yang pertama, berat sekali tentunya. Akan dijelaskan selanjutnya. Wa an yuhibbal mar’a la yuhibbuhu illa Lillah dan apabila ia mencintai seseorang itu tidak ia cintai terkecuali karena Allah.

Maksudnya adalah ketika ia mempunyai teman atau saudara atau kerabat atau siapapun yang menjalankan kemunkaran dan dosa maka kuranglah penghargaannya kepada orang itu, jatuh harga diri orang itu di hadapannya ketika orang itu banyak berbuat dosa namun bukan membencinya. Hingga ia tidak memuliakan seseorang yang ia cintai dan ia hargai semata – mata hanya karena Allah Swt. Kekufuran disini maksudnya keluar dari Islam.

Ketika seseorang mendengar hadits ini, layaknya ia berjuang untuk mencapai kemuliaan hadits ini. Ia berusaha ingin mencintai Allah dan Rasul lebih dari segala – galanya.

Karena cinta mereka kepada kita lebih daripada segala yang lainnya. Allah Swt melihat Fir’aun yang sudah mengakui dirinya sebagai Tuhan Yang Maha Benar dan berkata Ana Rabbukumul a’la” akulah Tuhan kalian Yang Maha Tinggi. Datang kepadanya dengan ucapan lembut dan sopan barangkali ia mau bertaubat, tapi menolak menolak menolak dan menolak.

Ketika ia berdoa kepada Allah Rabbiy andhirniy ila yaumiyub’atsuun” wahai Allah tunda siksaku sampai hari kebangkitan, Allah menjawabnya fainnaka minal mundharin” engkau ditunda siksanya, wahai iblis. Kalau ia bertaubat niscaya Allah menerima taubatnya, namun ia tidak mau bertaubat karena sombongnya dan Allah menunjukkan Kasih Sayangnya kepada kita.

Atau mungkin Allah ijabah dengan kebalikan apa yang kita minta. Kalau kita minta kepada Allah dan dikabulkan namun bukan hanya dikabulkan oleh Allah tapi ditambahkan padahal dan Rahmat-Nya.

Allah beri ia bayi perempuan, maka ia berkata “aku melahirkan bayi perempuan padahal aku minta bayi lelaki”. Allah munculkan bayi perempuan yang lahir, kenapa? Muncullah seorang bayi perempuan dan ia berkata “wahai Allah kenapa ini aku melahirkan bayi perempuan? Maksudnya yang kuharapkan adalah seorang ksatria, mustahil seorang perempuan menjadi ksatria. Allah tidak berikan kepadanya doanya, tapi Allah jadikan 2X lipat lebih besar dari doanya. Dapat putri yang shalihah, Sayyidatuna Maryam salah satu wanita termulia di muka bumi yang melahirkan putranya Nabiyullah Isa alaihi salam.

Imam Ibn Hajar menjelaskan, mereka yang berusaha mencapai ini, ia sudah termasuk mendapatkan pahalanya. Kalau sudah ia mencintai Allah dan Rasul, maka ia dicintai Allah dan Rasul itu pasti. Maka jika kerinduan muncul pada diri maka kerinduan sudah muncul pada Dzatnya Allah.

Semakin ia naik derajatnya, semakin ia mendapatkan manisnya iman. Tidak mencintai melebihi sesuatu daripada Allah dan Rasul-Nya dan tidak mencintai seseorang kecuali karena cintainya kepada Allah dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana tidak mau dilemparkan ke dalam api. Allah Swt berfirman di dalam hadits qudsiy riwayat Shahih Bukhari bahwa kelak di hari kiamat ketika orang – orang penduduk surga telah sampai di surga maka Allah Swt berfirman menjelaskan kejadian itu “Aku siapkan untuk hamba – hambaKu yang shalih apa – apa yang belum pernah dilihat mata, apa – apa yang belum didengar telinga, belum pernah terlintas dalam sanubari mereka”. Untuk siapa? Tentunya kita masih punya harapan, karena orang yang berusaha mencapai derajat orang – orang shalih, ia sudah mendapatkan pahalanya. Jangan lupa “seseorang bersama dengan orang yang dicintainya”.

Maka Allah berkata “Aku halalkan untuk kalian Kasih Sayang-Ku dan Ridho-Ku dan Aku tidak akan murka pada kalian selama – lamanya. Maka itulah yang selalu diminta oleh Sang Nabi saw Allahumma innanas aluka ridhakal wal jannah, wa na’udzubika min sakhatika wannaar”.

Beliau bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa seorang Nabi, kata beliau. Ketika sedang diperangi oleh umatnya, oleh kaumnya sampai terluka wajahnya maka berdarah – darah wajahnya, Nabi itu berkata Allahumma firli kaumihi fainnahu la ya’lamun. Karena tidak terjadi di dalam sejarah, ada perbuatan Nabi seperti itu kepada kaumya terkecuali Sayyidina Muhammad Saw. Ketika darah mengalir dari wajahnya. Imam Ibn Hajar menukil salah satu riwayat lainnya, saat darah itu mengalir, Sang Nabi saw berusaha menahan dengan lidahnya, tangannya agar jangan sampai jatuh ke tanah. Rasul berkata “demi Allah,kalau sampai ada setetes darah dari wajahku terkena bumi, Allah akan menumpahkan bala kepada kaum yang memerangiku. Allah murka kalau ada setetes darahku sampai jatuh ke bumi, Allah akan celakakan mereka seraya berdoa Allahumma firli kaumihi fainnahu la ya’lamun.

Mereka dalam kemuliaan yang sangat tinggi. Diriwayatkan di dalam riwayat yang tsigah, Sayyidatuna Fatimatuzzahra radiyallahu anha, di hari kiamat manusia diperintahkan melintas di jembatan ashshirat. Lewatlah jembatan shirat, saat manusia saling mundur untuk melintasi jembatan itu. Maka terdengarlah satu seruan dari malaikatul muqarrabin ya ahlul jannah, Ghuddhuu absharakum, wa nakkisuu ru’uusakum, Fatimah binti Muhammad tamurru alassshiraat” wahai semua yang di padang mahsyar, tundukkan kepada kalian dan tundukkan pandangan kalian, beri penghormatan kepada Fatimah putri Muhammad yang akan melintas di jembatan shirat. Semua kepala tertunduk untuk menghormati putri Sayyidina Muhammad Saw. Ketika beliau saw di hari – hari akhirnya, (riwayat shahih Bukhari) beliau saw memanggil putrinya Sayyidatuna Fatimatuzzahra, “wahai Fatimah aku mohon pamit, aku akan meninggalkanmu”. Maka menangislah Sayyidatuna Fatimatuzzahra radiyallahu anha dan berkata Rasul saw “kau adalah orang yang pertama kali menyusulku nanti wahai Fatimah”, maka Sayyidatuna Fatimatuzzahra terdiam, lalu Rasul saw berkata “apakah kau tidak ridha dan senang, kau menjadi pemimpin wanita yang paling mulia di dalam surga-Nya Allah”. Sayyidatuna Fatimatuzzahra tersenyum gembira. Para muhadditsin berkata bahwa Sayyidatuna Fatimatuzzahra bukan gembira menjadi wanita termulia di surga, tapi yang membuat ia tersenyum adalah derajatnya yangia capai sebagai wanita termulia di surga itu menggembirakan hati Sang Nabi saw. Maka ia tersenyum karena bisa membuat bangga Sang Nabi saw.

Rabbiy Rabbiy kami menginginkan derajat – derajat tertinggi di dunia dan akhirat dalam keridhoan. Rabbiy Rabbiy kami menghendaki dan mendambakan kenikmatan di dunia, kenikmatan di barzah, kenikmatan di akhirat. Rabbiy Rabbiy inilah doa, inilah munajat, jawablah segala harapan kami dan munajat kami.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Mari kita berdoa bersama dan juga dalam doa ini kita berdoa agar diberikan pemimpin yang baik bagi kita, pemimpin yang menindas kedhaliman, pemimpin yang mencintai para shalihin, pemimpin yang membela kelemahan, pemimpin yang membawa kedamaian bagi negeri kita.

Pembersih Jiwa

Manusia adalah materi (madah) yang oleh Allah diberi ruh sebagai rahasia kehidupannya. Allah juga melengkapi manusia dengan kekuatan (energi) yang sangat penting bagi kehidupan, seperti kebutuhan-kebutuhan organik dan naluri-naluri. Kesemuanya itu mendorong manusia untuk bertindak demi terpuaskannya kebutuhan yang dituntut energi itu. Namun, baik buruknya sikap (tindakan) manusia tergantung kepada baik buruknya hati manusia itu sendiri.

Ahmad bin Rajab Al Hambali dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam berkata, ”Sesungguhnya baik buruknya tindakan seseorang dapat dilihat dari gerakan anggota badannya. Jika hatinya baik maka tidak ada di dalamnya, kecuali kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa yang dicintai Allah. Perasaan takut kepada Allah dan perasaan takut akan terjerumus kepada apa yang dibenci Allah, akan menjadikan seluruh gerakan anggota tubuhnya baik.”

Kalau kita perhatikan kerusuhan, kerusakan, dan kekacauan yang terjadi, maka semuanya disebabkan oleh rusaknya hati manusia, sehingga menimbulkan dominasi pola pikir yang tunduk pada materi dan adanya pengaruh egoisme individu dan kelompok.

Dengan demikian, kalau ingin mengubah sikap hidup manusia, maka yang utama harus digarap adalah hatinya. Sebab hati laksana raja, sedangkan anggota tubuh yang lain merupakan bala tentaranya.

Nabi saw bersabda, “Ingat dan ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik, maka tubuh (sikap dan tindakan) manusia baik semuanya. Dan apabila dia rusak, maka rusaklah semuanya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati” (HR. Bukhari-Muslim).

Mengingat pentingnya tazkiyatun nufus, yakni perbaikan pola sikap dan tindakan manusia dengan cara memperbaiki hati, maka tidaklah berlebihan jika berharap hal ini diupayakan oleh segenap lapisan masyarakat terutama lapisan atas (para pemimpin).

Dengan tazkiyatun nufus mereka akan terhindar dari sikap dan tindakan merugikan, yaitu tindakan yang didorong oleh hati yang rusak.

Pada Tiga Masjid

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى (صحيح البخاري


Sabda Rasulullah saw:
“Janganlah memaksakan (berusaha keras) mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul saw, dan Masjid Al Aqsha” (Shahih Bukhari).

Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Maha Raja langit dan bumi, Maha Membangun kemegahan alam semesta dari tiada, Maha Tunggal dan Maha Abadi sempurna dengan Keabadian-Nya dan alam semesta menjadi lambang Kesempurnaan-Nya. Terbit dan terbenamnya matahari menyaksikan Anugerah Ilahi yang tiada pernah terputus kepada hamba – hambaNya. Kenikmatan yang tiada tara yang tidak bisa diberikan oleh hamba satu sama lain.

Tiada satu manusia bisa menciptakan akalnya sendiri, tiada satu manusia bisa menciptakan tangannya sendiri, tiada satu manusia bisa menciptakan lidah dan bibirnya sendiri, tiada satu manusia bisa memiliki kehidupannya sendiri, bahkan ia lahir tanpa kehendak-Nya untuk lahir ke muka bumi. Semua bayi lahir tanpa tahu kenapa ia lahir. Maka diutuslah Para Nabi dan Rasul, para pembawa risalah mulia menuntun kepada keluhuran.

Sampailah kepada kita keagungan tuntunan Sayyidina Muhammad Saw. Allah Maha Tahu bahwa manusia itu selalu menginginkan keindahan. Namun Dia (Allah) menciptakan manusia itu lemah agar manusia banyak berdoa. Allah menciptakan manusia bisa berbuat jahat agar manusia mengenal Yang Maha Memaafkan. Hakikatnya merupakan bentuk perkenalan Kesempurnaan Allah dan Keindahan Allah.

Maka muncullah tujuh ayat dalam surah Al Fatihah yang mengandung rahasia Kasih Sayang Allah untuk hamba – hambaNya yang beriman dan yang tidak beriman. Bismillahirrahmanirrahim” (QS. Al Fatihah : 1) adalah kalimat yang mengenalkan Kasih Sayang Allah pada hamba-Nya yang beriman dan yang tidak beriman. Diizinkan minum, diizinkan makan, diizinkan bernafas, yang kesemuanya itu adalah bentuk dari nikmatnya Allah Swt.

Rasulullah saw itu kalau selesai minum beliau berdoa, Alhamdulillahilladzi ja’allahu ‘adzban furatan birahmatihi wa lam ya2j’alhu milhan ujaajan bidzunubina.” Allah bisa membalikkan air yang jernih itu menjadi bara api yang masuk ke dalam mulut kita karena dosa – dosa kita. Wa lam yaj’alhu milhan ujaajan bidzunubina Tidak Ia (Allah) dijadikan pahit dan getir bagi mereka karena dosa – dosa.

“Bismillahirrahmanirrahim” “Arrahman” (Maha Melimpahkan Kasih Sayang kepada seluruh makhluk-Nya). Kalimat ini mengenalkan Kasih Sayang dan merangkul seluruh makna kasih sayang dan kenikmatan yang dilimpahkan oleh Allah di muka bumi dan kenikmatan yang abadi kelak bagi yang beriman di dunia dan di akhirat. Demikian dan surah Al Fatihah juga adalah induk dari seagung – agungnya doa.

Surah Al Fatihah adalah induk dari seagung – agungnya doa, seagung – agungnya Rahmat-Nya Allah. Maka keselamatan dari dosa – dosa adalah jalan yang lurus dan baik.

Ihdinaashshirathalmustaqiim” (QS. Al Fatihah : 6). Tunjukkan kami ke jalan yang lurus. Adakah kalimat yang lebih agung dari tidak ingin selalu jauh dari Allah. Ihdina.. ihdina.. ihdina Tunjukkan.. tunjukkan.. tunjukkan kami ke jalan yang lurus, walau sudah tahu tunjukkan lagi yang lebih indah bukan dari pintu yang lebih indah. Bila yang menghalangi kami dari jalan yang lurus adalah pekerjaan maka berikan pekerjaan yang lebih indah dan lurus di mata-Mu Rabbiy.

Jika yang menjadi penghalang adalah usaha kami daripada hal – hal yang tidak Kau ridhai maka jadikanlah Rabbiy usaha kami hal – hal yang Kau ridhai dan membawa kemakmuran. Inilah doa yang menuntun agar selalu dirangkul oleh cintanya Allah.

Shiratalladzina an’amta a’laihim” (QS. Al Fatihah : 7) Jalan orang yang Kau beri kenikmatan atas mereka. Minta jalan orang yang Kau beri kenikmatan dunia dan akhirat, beri kami kenikmatan. Adakah kebutuhan lebih dari kenikmatan?

Ghairilmaghdhubi a’laihim waladhdhaalliin” (QS. Al Fatihah : 7) Bukan jalan yang mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Kenapa? Beruntunglah yang mengikuti dan memahami rahasia kemuliaan Anugerah Ilahi.

Sampailah kita pada hadits riwayat Shahih Bukhari, La tasyaddurrahalu illa ilaa tsalatsah masaajid, Almasjidil haram, wa masjidirrasul shallallahu a’laihi wasallam, walmasjidil Aqsha.” Jangan berusaha untuk mengadakan perjalanan atau memaksakan diri untuk mencapai kecuali tiga tempat yaitu Masjidil Haram, Masjidinnabiy dan Masjidil Aqsa. Makna hadits ini bukan berarti seseorang itu haram pergi ke masjid lainnya akan tetapi memberikan semangat dari Nabi saw, tidak ada tempat yang lebih baik dari dituju di muka bumi melebihi Masjidil Haram, Masjid Nabawiy dan Masjid Al Aqsa. Kalau bawa anak, tamasya, ziarah, mengadakan dalam perjalanan, boleh – boleh saja tapi tidak ada yang melebihi tiga kemuliaan tempat ini.

Di sini laisa bittahriim, tap Tasyjii’ wattarghiib, bukan haram pergi ke masjid lain, karena di dalam riwayat Shahih Bukhari Nabi saw pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu.
Menunjukkan pergi ke masjid – masjid lain juga boleh.
Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Baari bisayarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa makna hadits ini terlepas dari keinginan seseorang daripada ziarah kepada pekuburan shalihin (orang – orang shalih) karena yang dituju bukan masjidnya tapi pekuburannya. Demikian pula kalau seandainya berziarah ke tempat – tempat para shalihin maka hal itu adalah sunnah. Tiga tempat yang Allah jadikan perjuangan dan kemuliaan langkah – langkah Nabi Muhammad Saw.

Masjidil Haram adalah tempat lahirnya Rasulullah Saw, Masjid Nabawiy adalah makamnya Rasulullah Saw, Masjidil Aqsa adalah tempat Isra dan Mi’rajnya Rasulullah Saw.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari Rasul saw bersabda, Ma baina, baiti wamin bariy raudhatun min riyadhil jannah” Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman – taman surga. Antara rumah dan mimbarnya adalah taman surga. Bagaimana taman surga? Tempat itu menjadi salah satu dari tamannya surganya Allah Swt. Orang yang ibadah di tempat itu, insya Allah bersama Rasulullah Saw di taman surganya Allah.

Oleh sebab itu Abu Abdilah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari yaitu penyusun Shahih Bukhari, dikenal dengan nana Imam Bukhari. Satu hadits ditulis berwudhu, shalat, tulis lagi, berwudhu, shalat.

Ketika Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu berdoa kepada Allah, Allahummarzuqnissyahaadah fi baladi Rasulik” Wahai Allah beri aku mati syahid tapi mati syahidnya di Madinah Al Munawwarah. Bukan hanya di Madinah wafatnya tapi malah dimakamkan di sebelah makamnya Rasulullah Saw. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari Rasul saw berdoa, Allahumma habbib ilaynal Madinah Kahubbina Makkah awa asyadd” Wahai Allah jadikanlah kami ini mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai Makkah. Beruntung orang – orang yang mencintai Madinah Al Munawwarah.

Dari salah satu sunnah Sang Nabi saw yang tidak ditinggal oleh Nabi saw di dalam melakukan safar adalah qabliyah fajr (shalat sunnah sebelum shalat fardhu fajar). Shalat Fajar itu adalah shalat subuh. Kalau sunnah fajar berarti sunnah subuh, ketahuilah bahwa tidak ada bedanya makna fajar dan subuh itu di dalam fiqh. Kalau niatnya “ushalli fardhul fajr dengan ushalli fardhussubuh” sama saja, karena fajr itu ya subuh, subuh ya fajr. Diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah radiyallahu anha di dalam Shahih Bukhari Rasul saw selalu memaksakan untuk tidak pernah meninggalkan shalat qabliyah fajr “fi hadharin wa safar” di dalam perjalanan maupun tidak dalam perjalanan, dalam keadaan sakit atau dalam keadaan sehat selalu tidak mau tinggal shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat subuh.

Allah Swt menuntun hamba – hambaNya kepada kemuliaan maka jadikan hari – hari kita terus mendekat kepada hal – hal yang mulia. Ketika Nabiyullah Ibrahim as diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari bahwa ketika Nabiyullah Ibrahim as ini sudah siap dibakar oleh Namrud karena menghancurkan semua berhala dan menggantungkan kapak yang menghancurkan semua berhala pada berhala yang paling besar maka rakyat sudah tahu ini yang berbuat adalah Ibrahim maka bakar. “Wahai Allah kekasih-Mu itu Ibrahim mau dibakar.” Maka Allah menjawab, “Aku lebih tahu daripada mereka alam semesta”. Nabiyullah Ibrahim berdoa, “Wahai Allah Engkau Maha Tunggal di langit dan bumi, aku ini sendiri di muka bumi, tidak ada manusia menyembah-Mu selain aku di muka bumi ini, di dunia ini”. Engkau Maha Tunggal ya Rabb dan aku sendiri di bumi ini, tidak ada satu pun yang menyembah-Mu di muka bumi. Hasbiyallahu wani’mal wakiil” Cukup bagiku Engkau wahai Allah daripada hal – hal yang perlu kuminta perlindungan. Wahai api jadilah kau sejuk dan membawa kesejahteraan atas Ibrahim as. Bagaimana pasrah dirinya Nabiyullah Ibrahim kepada Allah, Khalilullah (kekasih Allah).

Diriwayatkan di dalam riwayat yang tsigah bahwa Allah menyaksikan seekor katak yang mengisi air di mulutnya dan melompat – lompat mendekat kepada Nabi Ibrahim dan meniupkan air di mulutnya ke gunung api yang membakar Nabiyullah Ibrahim. Ia kembali lagi mengambil air, menaruh air di mulutnya, melompat – lompat lagi mendekati api dan menyemburkannya. Tapi perbuatan yang sia – sia itu tidak sia – sia di mata Allah. Diriwayatkan di dalam Sunan Al Kubra oleh Al Imam Baihaqi dan riwayat Imam Nasa’i dan riwayat Imam Abi Daud dengan riwayat hasan dan riwayat yang shahih bahwa Rasul saw melarang membunuh katak.

Datang seseorang berkata, “Ya Rasulullah kami ingin menjadikan obat dari hewan katak boleh tidak?” Dilarang oleh Nabi saw. Subhanallah! Karena cintanya katak kepada Khalilullah (Nabiyullah Ibrahim as).

Kalau seekor katak mendapatkan penghargaan diharamkan untuk dibunuh seluruh bangsanya hingga akhir zaman hanya karena mengumpulkan air di mulutnya untuk memadamkan api Nabi Ibrahim. Renungilah di dalam jiwa masing – masing, renungilah segalanya betapa Allah menghargai orang – orang yang mau peduli atas hamba – hamba yang dicintai Allah.

Kita berdoa kepada Allah Swt. Semoga diberi kesuksesan oleh Allah Swt. Amin allahumma amin.

Semoga dilimpahi keberkahan oleh Allah. Barangkali di antara kami yang hadir Rabbiy di dalam permasalahan rumah tangganya, permasalahan dalam pekerjaannya, permasalahan dalam sekolahnya, permasalahan dalam pekerjaannya.

Ya Rahman Ya Rahim “Ihdinaashshirathalmustaqiim Shiratalladzina an’amta a’laihim” tunjukkan kami ke jalan yang lurus, tunjukkan kami ke jalan yang indah. Wahai Yang Maha Menerbitkan matahari dan membenamkannya, wahai Yang Menciptakan seluruh sel dan debu menghamparkan ke permukaan bumi, wahai Yang Mamahami segala kehidupan dan segala kematian, wahai Yang Menguasai kehidupan dunia, kehidupan barzah dan kehidupan di yaumal qiyamah, kami pasrah kepada-Mu Rabbiy Sang Pemilik kehidupan. Kami titipkan diri kami pada gerbang Rahmat-Mu ya Allah, pada gerbang Kasih Sayang-Mu Rabbiy.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.

Semoga Allah menyingkirkan segala fitnah dari segala musibah dan bala yang datang. Amin Allahumma Amin.

Washollallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam.

Menguatkan Kesabaran

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tahun ke-10 kenabian Muhammad saw mengandung banyak hikmah. Ini karena peristiwa tersebut merupakan hiburan Allah SWT kepada Rasul-Nya yang tengah mengalami kesedihan luar biasa.

Belum lagi hilang kesedihan, Rasul dan para pengikutnya diboikot dan diisolir hingga mengalami penderitaan yang luar biasa. Mereka seakan memahami benar akan janji Allah dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (QS 3:200).

Atas penderitaan luar biasa tersebut, Rasulullah saw kemudian dihibur oleh Allah SWT dengan melakukan perjalanan yang hingga kini jadi salah satu mukjizat kerasulan Muhammad saw, Isra’ dan Mi’raj. Bukan tak mungkin krisis akan merembet ke berbagai persoalan, termasuk ancaman disintegrasi bangsa.

Ini penting karena cita-cita suci reformasi harus tetap dijaga agar berjalan lancar secara alamiah, sehingga reformasi bisa mengantarkan kepada masyarakat madani yang diidamkan.

Karena posisi kunci, maka kesabaran menjadi amat penting untuk senantiasa dibina. Oleh karena itu Alquran dalam surat Ali Imran ayat 200 tersebut telah menasihatkan, ketika masalah itu datangnya bertubi-tubi, maka di situlah wajib bagi setiap orang untuk washoobiruu (menguatkan kesabaran).

Jadi, meski bagaimanapun kalutnya situasi, siapa pun tak dibenarkan bertindak di luar hukum, apalagi dengan dalih “kesabaran ada batasnya dan sekarang sudah habis”. Hal ini tak boleh diabaikan, dan untuk itulah setiap orang hendaknya senantiasa waraabituu (bersiap siaga).

Kata ulama, jika seseorang ingin sukses dunia maka dia harus sabar, dan jika seseorang ingin sukses akhirat maka dia harus sabar, dan jika seseorang ingin sukses dunia dan akhirat maka dia harus sabar. Wallahu A’lam